Satu tahun pertama sering disebut sebagai fase perkenalan. Namun bagi Gerakan Rakyat Kalimantan Tengah, momentum ini bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan fase pembuktian integritas dan konsistensi. Sebab dalam dinamika sosial, legitimasi sebuah gerakan tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh rekam jejak tindakan yang terukur dan berkelanjutan. Itulah sebabnya peringatan hari jadi pertama dimaknai sebagai ruang refleksi sekaligus deklarasi komitmen nyata kepada masyarakat dan lingkungan.
Dalam memperingati HUT ke-1, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Rakyat Kalimantan Tengah bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Rakyat Kabupaten Katingan memilih langkah strategis: aksi tanam pohon. Keputusan ini bukan sekadar simbolik, melainkan respons rasional terhadap tantangan ekologis yang semakin nyata di Kalimantan Tengah. Di tengah meningkatnya frekuensi banjir, degradasi hutan, serta menurunnya daya dukung lingkungan, penghijauan menjadi solusi berbasis tindakan yang menyentuh akar persoalan.
Kalimantan Tengah merupakan salah satu wilayah dengan hamparan hutan tropis yang memiliki nilai ekologis tinggi. Namun realitas di lapangan menunjukkan tekanan terhadap ekosistem terus meningkat. Alih fungsi lahan tanpa perencanaan berkelanjutan, eksploitasi sumber daya alam yang tidak diimbangi rehabilitasi, serta pembukaan kawasan yang minim kontrol telah menggerus keseimbangan lingkungan. Dampaknya tidak abstrak. Banjir lebih sering terjadi, tanah kehilangan kemampuan menyerap air, dan stabilitas ekonomi masyarakat terganggu. Dalam konteks ini, menjaga keseimbangan alam bukan lagi opsi idealis, melainkan kebutuhan mendesak.
Aksi tanam pohon yang dilakukan bukan kegiatan seremonial tahunan. Ia merupakan implementasi konkret dari hasil Rapat Kerja Nasional I Gerakan Rakyat yang digelar pada Januari 2026 di Jakarta, di mana isu lingkungan ditetapkan sebagai agenda prioritas. Organisasi menegaskan bahwa mitigasi kerusakan hutan dan bencana hidrometeorologi harus dilakukan melalui pendekatan partisipatif. Artinya, solusi tidak cukup lahir dari kebijakan di atas meja, tetapi harus melibatkan masyarakat sebagai aktor utama perubahan.
Dari sinilah lahir program “Satu Orang Satu Pohon”. Konsepnya sederhana, tetapi memiliki daya ungkit besar. Setiap kader dan masyarakat diajak menanam serta merawat minimal satu pohon. Filosofi gerakan ini jelas: transformasi ekologis dimulai dari komitmen individu yang dikonsolidasikan secara kolektif. Jika ribuan orang berpartisipasi secara konsisten, maka ribuan pohon akan tumbuh menjadi sistem penyangga alami yang memperkuat ketahanan lingkungan.
Secara ilmiah, penghijauan merupakan solusi berbasis alam yang terbukti efektif. Sistem perakaran pohon meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan, serta menekan potensi erosi. Dalam wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Kalimantan Tengah, peningkatan tutupan vegetasi secara signifikan dapat menurunkan risiko banjir. Selain itu, pohon berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen, sehingga berkontribusi pada stabilitas iklim dan peningkatan kualitas udara. Dengan kata lain, setiap pohon yang ditanam adalah investasi ekologis jangka panjang.
Pernyataan para pengurus daerah menegaskan bahwa kekuatan gerakan terletak pada partisipasi kolektif. Menanam satu pohon mungkin tampak sederhana, tetapi jika dilakukan secara masif dan berkelanjutan, dampaknya akan sistemik. Kesadaran individu yang dihimpun menjadi energi kolektif akan melahirkan perubahan nyata dan terukur. Inilah esensi gerakan: membangun budaya peduli lingkungan, bukan sekadar melaksanakan agenda sesaat.
Momentum satu tahun ini sekaligus menjadi penegasan orientasi organisasi. Gerakan Rakyat Kalimantan Tengah ingin dikenal sebagai entitas yang bekerja, bukan hanya berbicara. Penghijauan dipilih sebagai simbol komitmen terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab antar-generasi. Langkah ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar retorika, tetapi diwujudkan dalam aksi konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Rangkaian kegiatan hari jadi juga diisi dengan bakti sosial sebagai bentuk solidaritas, serta kaderisasi serentak guna memperkuat kapasitas internal organisasi. Konsolidasi internal ini penting agar keberlanjutan program tidak terhenti pada momentum peringatan semata. Pemasangan atribut organisasi di berbagai titik strategis menjadi simbol kesiapan untuk terus hadir dan berkontribusi aktif dalam pembangunan sosial dan lingkungan.
Ke depan, efektivitas gerakan ini sangat bergantung pada konsistensi implementasi dan kolaborasi lintas sektor. Program penghijauan akan memiliki daya dampak lebih besar apabila melibatkan lembaga pendidikan, komunitas pemuda, kelompok tani, hingga pelaku usaha lokal. Pendekatan kolaboratif memungkinkan gerakan ini berkembang menjadi budaya kolektif yang berkelanjutan, bukan sekadar program tahunan.
Bayangkan jika setiap tahun ribuan pohon ditanam dan dirawat secara disiplin. Dalam beberapa tahun, kawasan yang sebelumnya minim vegetasi dapat berubah menjadi ruang hijau produktif. Cadangan air tanah terjaga, kualitas udara membaik, dan risiko bencana dapat ditekan. Manfaatnya bukan hanya dirasakan saat ini, tetapi diwariskan kepada generasi mendatang.
Satu tahun perjalanan telah menjadi fondasi awal yang solid. Tantangan berikutnya adalah menjaga ritme, memperluas partisipasi, dan memastikan keberlanjutan. Komitmen yang telah ditegaskan harus terus dipelihara agar tidak berhenti pada simbol peringatan.
Pada akhirnya, kredibilitas organisasi ditentukan oleh bukti, bukan janji. Melalui gerakan penghijauan berkelanjutan ini, Gerakan Rakyat Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan bersama. Menanam hari ini berarti menanam masa depan: masa depan Kalimantan Tengah yang lebih hijau, lebih tangguh, dan lebih sejahtera.