Satu Tahun Gerakan Rakyat Sulsel: Menguatkan Barisan, Memperjuangkan Keadilan Sosial yang Nyata bagi Semua

MAKASSAR – Memasuki usia satu tahun, Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan tidak menjadikan momentum ini sekadar perayaan seremonial. Sebaliknya, peringatan ini diposisikan sebagai titik refleksi sekaligus konsolidasi kekuatan. Ini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi langkah, memperkuat barisan, dan menegaskan kembali arah perjuangan: menghadirkan keadilan sosial yang benar-benar dirasakan, bukan sekadar diucapkan.

Sejak awal berdiri, Gerakan Rakyat Sulsel berpijak pada prinsip kesetaraan. Pembangunan, dalam pandangan mereka, harus membuka akses yang sama bagi seluruh warga tanpa kecuali. Tidak boleh ada masyarakat yang terpinggirkan hanya karena keterbatasan ekonomi, minimnya akses pendidikan, atau hambatan geografis. Kesetaraan bukan slogan, melainkan fondasi dalam merancang masa depan yang lebih inklusif.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam dialog publik bertema “Kesetaraan dan Keadilan Sosial Hari Ini dan Masa Depan” yang digelar di Radio Insaniah, bagian dari Universitas Muhammadiyah Makassar. Forum ini menjadi ruang diskusi terbuka untuk membedah berbagai persoalan struktural, mulai dari ketimpangan pembangunan hingga kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil.

Dalam forum itu, Sekretaris DPW Gerakan Rakyat Sulsel, Muhammad Zaynur, menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan merata. Angka-angka makro yang impresif tidak memiliki makna apabila masyarakat lapisan bawah belum merasakan peningkatan kualitas hidup secara konkret. Oleh karena itu, orientasi pembangunan harus berfokus pada distribusi manfaat yang adil, bukan sekadar mengejar statistik pertumbuhan.

Ia menegaskan bahwa kesetaraan harus diterjemahkan dalam kebijakan nyata. Pendidikan berkualitas wajib dapat diakses seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi. Layanan kesehatan harus menjangkau wilayah terpencil dengan standar yang layak. Lapangan kerja produktif perlu diperluas agar generasi muda memiliki peluang masa depan yang jelas. Selain itu, ruang usaha bagi pelaku ekonomi rakyat harus dibuka selebar-lebarnya agar pertumbuhan bersifat inklusif dan berkelanjutan.

Amanat keadilan sosial sejatinya telah tertanam dalam konstitusi dan nilai-nilai Pancasila. Namun, implementasi membutuhkan keberanian politik dan konsistensi kebijakan. Pembangunan tidak boleh hanya berpusat di kota-kota besar sementara daerah lain tertinggal. Indonesia yang kokoh adalah Indonesia yang tumbuh merata dari pusat hingga pelosok.

Pandangan ini sejalan dengan gagasan Anies Baswedan yang kerap menekankan pentingnya kesetaraan sebagai pilar kemajuan bangsa. Kemajuan sejati tidak semata diukur dari megahnya infrastruktur atau tingginya investasi, tetapi dari hadirnya rasa keadilan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Inspirasi moral inilah yang memperkuat arah perjuangan Gerakan Rakyat Sulsel.

Lebih dari sekadar nilai normatif, keadilan sosial memiliki dimensi strategis. Ketika masyarakat merasakan perlakuan yang adil, kepercayaan terhadap institusi negara meningkat. Partisipasi publik dalam demokrasi menjadi lebih aktif dan konstruktif. Sebaliknya, ketimpangan yang dibiarkan berlarut dapat memicu ketidakpuasan sosial dan menggerus kohesi nasional. Karena itu, pemerataan harus ditempatkan sebagai prioritas jangka panjang.

Sebagai langkah konkret, DPW Gerakan Rakyat Sulsel mendorong penguatan sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi rakyat. UMKM memiliki daya serap tenaga kerja yang besar sekaligus berperan dalam mendistribusikan pendapatan secara lebih merata. Selain itu, pengembangan lapangan kerja berbasis potensi lokal menjadi strategi penting agar setiap daerah memiliki daya saing yang berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Dialog publik tersebut juga memperlihatkan antusiasme mahasiswa dalam menyampaikan pandangan kritis. Pertanyaan seputar efektivitas kebijakan dan pemerataan anggaran menunjukkan kepedulian generasi muda terhadap masa depan bangsa. Kampus harus terus menjadi ruang intelektual yang melahirkan gagasan segar dan solusi aplikatif untuk mengatasi ketimpangan.

Gerakan Rakyat Sulsel mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton perubahan. Energi, kreativitas, dan daya kritis mereka adalah modal sosial yang sangat besar. Indonesia yang lebih adil hanya dapat terwujud melalui partisipasi kolektif seluruh elemen masyarakat, termasuk kaum muda yang memiliki keberanian untuk menawarkan pembaruan.

Sebagai bentuk komitmen terhadap keterbukaan dan dialog, organisasi ini merencanakan forum “Vox Populi” dan “Desak Anies” pada Mei 2026 bersama Anies Baswedan. Forum tersebut dirancang sebagai ruang komunikasi dua arah antara masyarakat dan pemimpin. Aspirasi publik harus menjadi dasar perumusan kebijakan agar lebih responsif dan tepat sasaran.

Momentum satu tahun ini juga diisi dengan aksi sosial nyata, seperti donasi buku guna meningkatkan literasi, penanaman pohon sebagai simbol kepedulian lingkungan, serta berbagi takjil untuk memperkuat solidaritas sosial. Rangkaian kegiatan tersebut menegaskan bahwa perjuangan kesetaraan tidak berhenti pada diskusi, tetapi diwujudkan dalam tindakan konkret yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Satu tahun memang baru permulaan. Namun dengan komitmen yang semakin solid dan arah perjuangan yang semakin tegas, Gerakan Rakyat Sulsel menunjukkan tekad untuk terus mengawal agenda keadilan sosial. Indonesia yang setara, inklusif, dan bermartabat bukanlah impian utopis. Ia adalah tujuan kolektif yang harus diperjuangkan dengan konsistensi, keberanian, dan kolaborasi lintas elemen bangsa.

Kini saatnya memperkuat konsolidasi, memperluas partisipasi, dan memastikan bahwa setiap kebijakan berpijak pada kepentingan rakyat. Karena hanya dengan keadilan sosial yang nyata, Indonesia dapat melangkah maju sebagai bangsa yang kuat, bersatu, dan berdaulat.